Bukan Penemuan Baru, Mengapa Tepung Pemadam Api Baru Viral Setelah Disorot Presiden Prabowo?

JAKARTA — Sebuah inovasi berbahan dasar singkong kembali menjadi perbincangan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyoroti pemanfaatan tepung ubi atau singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di media sosial, isu tersebut kemudian berkembang menjadi narasi seolah-olah Indonesia baru saja menemukan teknologi pemadam api berbahan singkong.

Namun, penelusuran menunjukkan ceritanya tidak sesederhana itu.

Jauh sebelum istilah “ubi bombing” ramai dibicarakan pada 2026, inovasi pemadam api berbahan kulit singkong telah dikembangkan oleh Aryanto Misel, seorang inovator asal Cirebon.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar “apakah tepung singkong bisa memadamkan api?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Mengapa inovasi berbahan singkong yang sudah lama pernah diperkenalkan kembali menjadi perhatian nasional setelah Presiden Prabowo membicarakannya?

Jejak inovasi sudah ada sejak bertahun-tahun lalu

Aryanto Misel sebelumnya telah memperkenalkan alat pemadam api berbahan kulit singkong.

Dalam sejumlah pemberitaan lama, Aryanto menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari eksperimen yang dilakukannya sejak sekitar awal 2000-an. Ia kemudian mengembangkan bahan berbasis kulit singkong menjadi serbuk pemadam api.

Produk tersebut disebut Annaro Fire Stop dan dikembangkan dalam beberapa bentuk, termasuk perangkat yang menyerupai APAR serta bentuk bola.

Aryanto mengklaim bahan tersebut memanfaatkan kandungan potassium citrate atau kalium sitrat yang menurutnya dapat membantu menghentikan proses pembakaran.

Pada 2022, Aryanto bahkan mengklaim produk pemadam api buatannya telah terjual sekitar 6.000 unit.

Artinya, jika narasi yang beredar sekarang menyebut teknologi pemadam berbahan singkong sebagai penemuan baru, publik perlu berhati-hati.

Teknologi serupa sudah pernah diperkenalkan jauh sebelum 2026.

Lalu apa yang sebenarnya baru pada 2026?

Inilah bagian yang sering hilang dalam perbincangan media sosial.

Pada Agustus 2026, pemerintah kembali membicarakan pemanfaatan bahan berbasis tepung ubi atau singkong untuk penanganan karhutla.

Presiden Prabowo mendorong agar inovasi tersebut diuji dan dikembangkan dalam skala yang lebih besar.

Istilah “ubi bombing” kemudian muncul sebagai gambaran alternatif terhadap metode water bombing yang selama ini digunakan untuk menjangkau kebakaran dari udara.

Tetapi menyamakan inovasi tersebut begitu saja dengan produk Aryanto Misel juga tidak tepat.

Bahan yang sedang dibahas pemerintah memiliki konteks pengembangan berbeda. Karena itu, publik perlu membedakan antara inovasi APAR berbahan kulit singkong yang telah dikembangkan Aryanto Misel dengan material berbasis tepung atau singkong yang kini sedang dikaji untuk penanganan karhutla.

Kesamaan bahan dasar tidak otomatis berarti keduanya merupakan teknologi yang sama.

BRIN belum mengatakan teknologi ini siap menggantikan water bombing

Di sinilah klaim viral perlu diuji.

Ketika sebuah inovasi disebut mampu menjadi alternatif pemadaman karhutla, pertanyaan ilmiahnya jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar apakah bahan tersebut mampu memadamkan api dalam sebuah demonstrasi.

Karhutla dapat berlangsung pada area yang sangat luas, melibatkan vegetasi kering, semak, gambut, angin, dan kondisi medan yang sulit dijangkau.

Bahan pemadam yang efektif pada api skala kecil belum tentu efektif ketika digunakan pada kebakaran hutan dalam skala puluhan atau ratusan hektare.

Karena itu, pengujian harus menjawab berbagai pertanyaan:

- Seberapa efektif bahan tersebut pada api terbuka?
- Berapa banyak bahan yang dibutuhkan untuk satu hektare?
- Bagaimana bahan disebarkan dari udara?
- Seberapa jauh bahan dapat mencapai titik api?
- Apakah efektif terhadap kebakaran gambut?
- Bagaimana dampaknya terhadap tanah dan lingkungan?
- Berapa biaya produksinya dibandingkan metode pemadaman lain?
- Apakah dapat diproduksi dalam jumlah besar secara konsisten?

Tanpa jawaban terhadap pertanyaan tersebut, istilah “pengganti water bombing” masih terlalu dini untuk digunakan sebagai kesimpulan.

Jangan sampai inovasi kembali berhenti pada tahap viral

Ada persoalan yang lebih besar di balik viralnya teknologi ini.

Indonesia memiliki banyak cerita mengenai inovasi lokal yang menjadi perhatian publik setelah tampil dalam pemberitaan atau media sosial. Namun perhatian publik tidak selalu berujung pada proses riset, sertifikasi, produksi, dan pemanfaatan secara luas.

Kasus tepung pemadam api kembali membuka pertanyaan lama:

Apakah Indonesia mampu mengubah inovasi masyarakat menjadi teknologi yang benar-benar teruji dan digunakan?

Jika sebuah inovasi dinilai menjanjikan, maka langkah berikutnya seharusnya bukan sekadar membuatnya viral.

Harus ada pengujian independen, standar keselamatan, validasi ilmiah, perlindungan kekayaan intelektual, serta mekanisme produksi yang transparan.

Di sisi lain, para inovator juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan hasil temuannya diuji secara objektif tanpa harus terlebih dahulu menjadi viral di media sosial.

Aryanto Misel dan pertanyaan tentang apresiasi terhadap inovator lokal

Nama Aryanto Misel kembali muncul dalam perbincangan publik karena ia telah memperkenalkan inovasi pemadam berbahan kulit singkong bertahun-tahun sebelumnya.

Sejumlah pemberitaan juga menyebut klaim Aryanto mengenai pemasaran produknya dan hak paten yang disebut telah dijual ke Jepang.

Namun, klaim tersebut tetap harus dibaca sebagai klaim yang berasal dari pihak inovator, bukan otomatis sebagai bukti bahwa teknologi tersebut telah tervalidasi untuk menggantikan teknologi pemadam kebakaran yang sudah digunakan secara luas.

Di sinilah prinsip jurnalistik menjadi penting.

Mengangkat cerita seorang inovator bukan berarti membenarkan seluruh klaimnya.

Sebaliknya, menguji klaim bukan berarti meremehkan inovasinya.

Justru pengujian independen adalah cara terbaik untuk mengetahui apakah sebuah inovasi benar-benar memiliki nilai teknologi.

Dari kulit singkong menjadi isu nasional

Ironisnya, bahan yang selama ini dianggap sederhana kini kembali masuk dalam pembicaraan mengenai teknologi penanganan karhutla.

Singkong memang merupakan komoditas yang mudah ditemukan di Indonesia. Jika suatu formulasi berbasis singkong terbukti efektif, murah, aman, dan dapat diproduksi massal, potensinya tentu menarik.

Tetapi Indonesia tidak boleh berhenti pada euforia.

Sebab dalam dunia teknologi, demonstrasi bukanlah validasi ilmiah, viral bukanlah sertifikasi, dan pernyataan seorang tokoh bukanlah pengganti pengujian laboratorium.

Kesimpulan: yang viral baru wacananya, bukan pembuktiannya

Penelusuran terhadap jejak pemberitaan menunjukkan bahwa inovasi pemadam berbahan singkong bukan sesuatu yang tiba-tiba ditemukan pada 2026.

Aryanto Misel telah memperkenalkan inovasi pemadam berbahan kulit singkong jauh sebelumnya.

Yang membuat isu ini kembali menjadi perhatian pada 2026 adalah munculnya pembahasan pemerintah mengenai pemanfaatan bahan berbasis tepung ubi atau singkong untuk membantu menangani karhutla serta dorongan Presiden Prabowo agar inovasi tersebut dikembangkan dan diuji.

Kini bola berada di tangan para peneliti dan pemerintah.

Jika hasil pengujian membuktikan bahwa teknologi tersebut efektif, aman, murah, dan dapat digunakan dalam skala besar, Indonesia tentu memiliki alasan untuk bangga.

Namun jika hasil pengujian menunjukkan keterbatasan, masyarakat juga berhak mengetahuinya.

Sebab inovasi tidak seharusnya dinilai dari seberapa cepat ia menjadi viral, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan ketika diuji oleh ilmu pengetahuan. (RED/KR)

DAIRI TIGER — Fakta • Kritis • Beretika • Berkarakter 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miris!!! Lambang Garuda Diinjak Saat Aksi Demonstrasi di Aceh, Massa Sampaikan Sejumlah Tuntutan

13 Orang Dipanggil Jadi Saksi Kasus PT Gruti Belum Hadir di Polres Dairi

BGN Siapkan Sistem Digital MBG, Orang Tua Nantinya Dapat Memantau Menu dan Penyedia Makanan